Program Pengalaman Lapangan (PPL)

          Tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan kini saya sudah berada di tahap akhir yaitu semester 8. Dimana semester 8 menjadi sosok yang menegangkan bagi mahasiswa semester akhir. Bagaimana tidak menegangkan? Karna kami harus melewati beberapa mata kuliah lagi diantaranya Filsafat MIPA, Aplikasi Kewirausahaan Matematika, Workshop 2, Program Pengalaman Lapangan (PPL), dan skripsi. Nah! untuk edisi kali ini saya ingin menceritakan pengalaman mendapatkan mata kuliah Program Pengalaman Lapangan (PPL).

          Program Pengalaman Lapangan (PPL) adalah suatu program dalam program pendidikan LPTK, yang dirancang untuk melatih para calon guru menguasai kemampuan guru secara utuh dan terintegrasi. Dari pengertian di atas kita bisa memahami bahwasannya PPL itu ditujukan kepada mahasiswa pendidikan yang bertujuan melatih para calon guru tersebut. Dalam pelaksanaan PPL ini saya dan teman-teman membentuk 1 kelompok yang terdiri dari 11 orang. PPL ini dilaksanakan saat  libur semester ganjil. Berbagai persiapan saya dan teman-teman rencanakan diantaranya membagi tugas untuk saling mencari sekolah tingkat atas/kejuruan yang ingin dituju, membuat surat izin PPL di TU, dan membuat Rencana Program Pembelajaran (RPP). Setelah mencari kesana kemari akhirnya kami mendapatkan sekolah yang dekat dari kampus yaitu SMK Mahadika 1 Centex. Untuk perizinan dan jadwal mengajarpun Alhamdulillah dilancarkan.

          Kebetulan di samping saya kuliah, saya juga mengajar les di bimbel atau private dari situ saya sudah mengetahui beberapa karakter anak. Salah satu yang wajib banget disiapin buat mahasiswa yang mau PPL adalah mental. Karna tidak semua mahasiswa mempunyai mental yang kuat untuk menghadapi peserta didik yang bermacam-macam karakternya.
           
          Hari itu pun datang tepat di hari Senin, 8 Januari 2018 saya masuk ke kelas XI AP 3. Kebetulan saya mengajar mata pelajaran matematika di jam pertama pukul 13.00 - 15.40. Pertama kali menginjakan kaki di depan kelas ada rasa gugup. Namun saya harus bisa mengendalikan itu semua dengan cara melihat satu persatu anak yang duduk mulai dari belakang hingga depan. Sorak ceria dari mereka menandakan bahwa mereka senang dengan kedatangan guru-guru PPL dan itu semua menjadikan saya lebih pede untuk tampil hari itu. Seperti biasa untuk memulai pembelajaran ketua kelas memimpin doa. Setelah membaca doa saya tidak langsung masuk ke pelajaran tetapi saya membuka pembelajaran dengan pengenalan. Mereka mengajukan berbagai macam pertanyaan yang bermacam-macam. Seperti tinggal dimana bu? Kenapa ngajar di sini? Kenapa suka matematika? dan masih banyak lainnya. Selanjutnya ada tugas yang saya berikan pada hari itu, yaitu menyuruh mereka menulis di kertas selembar dimana mereka harus mengisi keingin mereka selama pembelajaran matematika berlangsung. Misalnya tidak banyak PR atau mau di sisipkan games dalam pembelajaran matematika. Semua anak-anak antusias saat diberikan tugas seperti itu, mungkin dengan seperti ini mereka bisa mengungkapkan cara belajar yang mereka inginkan dan tentunya memberikan masukan juga kepada saya agar bisa membawakan matematika dalam bentuk hal yang baru. Di hari itu juga kami semua membuat kesepakatan bersama untuk saling serius dalam belajar, mempunyai waktu untuk bercanda di saat waktu yang tepat, wajib bertanya jika bingung, tidak diam saja mengangguk seolah-olah diam padahal tidak paham, wajib berani dan tidak boleh takut salah, berkomentar apabila saya kecepetan dalam menjelaskan, meminta pertolongan dengan kata “tolong” dan mengucapkan “terimakasih” apabila mendapatkan sesuatu. Kesepakatan itu pun ditanggapi positif oleh mereka dengan tujuan agar proses pembelajaran ini dapat berlansung lancar. Tidak lupa saya juga meminta setiap anak untuk memperkenalkan dirinya masing-masing dengan menuliskan nama mereka di kertas  selembar dan menyuruh mereka berdiri di depan kelas yang nantinya akan saya ambil foto mereka dengan kamera poket. Tujuan saya mengambil foto mereka seperti itu agar saya dapat hafal satu persatu nama mereka. Cara seperti itu saya tiru dari guru SMA saya mata pelajaran bahasa jepang, dengan cara itu kita bisa lebih dekat dengan peserta didik dan merekapun merasa dihargai keberadaannya.


Peserta didik memperkenalkan diri secara bergantian

Peserta didik memperkenalkan diri secara bergantian

          Setelah pengenalan masuklah ke materi yaitu bab induksi matematika. Pertama-tama saya menjelaskan dahulu apa itu induksi dan gunanya untuk apa dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyimak dengan baik dan mulai ada respon terhadap materi tersebut. Tidak lupa saya selipkan latihan soal yang nantinya akan saya tunjuk salah satu dari mereka untuk maju kedepan dan menjelaskannya kepada teman-temannya. Tentunya perasaan dag dig dug menghampiri mereka semua, dan terpilihlah salah satu dari mereka yaitu Basri. Keadaan kelaspun ramai bersorak atas terpilihnya Basri. Tak terasa bel istirahat berbunyi dan itu menandakan bahwa pelajaran matematika berakhir. 

Basri menjelaskan kepada teman-temannya

Teman-teman sekelas memperhatikan Basri
          Singkat cerita, 3 bulan lamanya PPL akhirnya selesai. Lamanya PPL ini terpotong karena adanya kegiatan Try Out kelas XII.  Untuk membuka pembelajaran biasanya saya menyelipkan ice breaking, tujuannya untuk menimbulkan motivasi antara sesama peserta didik dan guru untuk melakukan aktivitas pembelajaran yang berlangsung. Selain itu, saya menerapkan  metode yang berbeda-beda disetiap minggunya. Apabila materi sudah habis maka akan saya adakan games yang terbagi menjadi beberapa kelompok, tujuannya agar terciptanya rasa kekompakan. Dalam permainan tentu ada yang menang dan ada yang kalah, hadiah yang saya berikan  yaitu berupa makanan atau alat tulis yang bisa digunakan.
Ikat kepala

Setelah main games matematika ludo king

Papan ludo king yang digunakan

Hadiah untuk juara 1, 2, dan 3

          Dari sini saya dapatkan pengalaman baru, cerita baru, ilmu baru, dan anak-anak yang baik hatinya. Seperti kita ketahui guru semacam idola bagi murid-muridnya. Di kelas, mata semua anak akan tertuju padamu. Jika ada murid yang menemui masalah, kamu juga adalah orang yang pertama dicari-cari. Dengan bertemu banyak karakter yang berbeda-beda mulai dari yang rajin sampai mereka yang bertingkah konyol itu pasti ada. Di sini kita bisa belajar untuk menjadi lebih sabar dalam menghadapi anak-anak kita di masa depan nanti dan tentunya seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. 

          Di hari terakhir saya mengajar  dan pengambilan nilai, saya melakukan foto bersama dengan mereka namun kurang kehadiran 1 orang anak dikarenakan sepertinya tidak melanjutkan lagi di sekolah tersebut.

Ice Breaking

Ice Breaking

Edisi anak laki-laki

Edisi perempuan

Pasukan laki-laki duduk di belakang

Ice breaking anak perempuan

Edisi perempuan

Games lempar soal

Membuat soal secara mandiri

Foto bersama
Mendapatkan soal lemparan dari teman

Edisi anak laki-laki

          Kalau ditanya sedih atau tidak berpisah dengan mereka? ya tentu sedih. Mengenal lebih dekat menjadikan kita seperti kakak dan adik. Besar harapan saya kelak nantinya mereka semua menjadi orang yang sukses tapi bukan sukses untuk dirinya sendiri namun berguna untuk orang-orang yang berada disekitarnya, mampu mengangkat derajat orang tuanya, dan tetap rendah hati. Aamiin ...

Salam sayang dari kakak untuk adek-adek XI AP 3 💙 

" ... Saya belajar menjadi guru dari ketidaksempurnaan guru - guru di sepanjang hidup saya. Sedangkan guru idola saya adalah murid - murid saya ... " - Butet Manurung

Comments